#AboutKL / Play  / Mud KL : Menghantar Sejarah Kuala Lumpur Dari Atas Panggung
Mereka juga bercerita dengan tubuh

Mud KL : Menghantar Sejarah Kuala Lumpur Dari Atas Panggung

Rumah bagi Panggung Bandaraya

Rumah bagi Panggung Bandaraya

  Bagaimana sebuah kota dibangun? Tergantung kepada siapa pertanyaan diberikan. Seorang penyair mungkinan menjawab bahwa kota dibangun oleh bahasa lalu dirangkai jadi puisi. Tukang batu mungkin melahirkan kota karena kehendak batu-batu ingin bersatu. Tapi jika kau bertaya kepada seorang Yap Ah Loy kemungkinan ia akan membawamu kembali ke abad ke-19, ke sebuah tempat di mana dua sungai bertemu: Gombak dan Klang, ke sebuah pemukiman penting bagi industri timah kala itu. Melalui pekerjaannya Yap Ah Loy akan membuatmu mengerti bagaimana industri timah merubah kampung jadi kota dan akhirnya metropolitan seperti sekarang. Kamu juga akan bertemu kenyataan bahwa segala sesuatu di dunia ini ada harga. Kamu harus membayar untuk punya.

Satu Sudut di Dataran Merdeka yang sedikit bercerita tentang masa lalu Kuala Lumpur

Satu Sudut di Dataran Merdeka yang sedikit bercerita tentang masa lalu Kuala Lumpur

  Kota itu dilahirkan oleh bapak pekerja keras bersama rahim ibu yang welas asih. Ia berhias luka, darah dan air mata. Ibu yang dapat melihat kedatangan harapan sekalipun redup. Ia mengerti bahwa untuk melengkapi tawa, kadang harus harus melewati bencana dan air mata. Datang silih berganti antara penyakit, epidemi, kebakaran dan banjir. Untungnya ibu harapan itu akan selalu mengayomi para pencari keberuntungan. Mereka datang yang bukan untuk menyerah, berani membayar dengan kesulitan, akhirnya mendapatkan hadiah.

Masa kini dan masa lalu Kuala Lumpur dalam satu jepretan

Masa kini dan masa lalu Kuala Lumpur dalam satu jepretan

  Itu lah gambaran siangkat bagaimana Kuala Lumpur dibangun. Bila teman-teman datang ke kota ini, coba bergerak ke Lapangan Merdeka – Bukit Bintang. Di sana menanti Panggung Bandaraya yang akan bercerita tentang sejarah Kuala Lumpur lewat pentas teater. Panggungnya sendiri berada dalam sebuah bangunan bergaya kolonial yang mulai dibangun tahun 1896 dan selesai tahun 1904. Ini salah satu teater tertua di Malaysia dan terletak berseberangan dengan Sultan Abdul Samad Building.

  Ceritanya saya menonton drama musikal Mud KL : The Story Kuala Lumpur karena merupakan salah program dari acara fam trip #AboutKL yang diadakan Malaysia Tourism KL dan Gaya Travel bagi para blogger ASEAN.

Pose bersama para pelakon Mud KL: History Kuala Lumpur

Pose bersama para pelakon Mud KL: History Kuala Lumpur

  Saya sebelumnya pernah berada di sekitar kawasan Lapangan Merdeka. Karena kurang informasi dan malas pula mencari maka eksistensi pertunjukan teater ini baru masuk ke kesadaran saaat mengikuti famtrip ini. Tapi santai saja, Kakak. Percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini indah pada waktunya. Maka waktu indah mengenal sejarah negara tetangga melalui gerak dan lagu itu datang kala program fam trip ini.

  Masuk ke gerbang bangunan cagar budaya, aura masa lalunya yang megah langsung memancar dan menyerap seluruh perhatian. Di tengah lobby ada meja besar tempat meletakan vas bunga dan beberapa brosur. Di atasnya bergayut lampu gantung hias klasik. Gedung yang awalnya dirancang sebagai Balai Kota oleh arsitek terkenal kolonial Inggris AB Hubback ini, benaran elegan. Namun akrab. Saya pikir pasti karena warna-warna hangat dari dinding jadi penyebabnya.

Suka pada pola ini

Suka pada pola ini

  Setelah mendapat sambutan selamat datang dari pihak Mud KL, kami menuju Royal Balcon yang terletak di lantai dua. Ruang bawah sudah diisi rombongan wisatawan lain. Para aktor dan artis berbaris di tangga, menyapa dan mengucapkan selamat datang. Sungguh satu penyambutan yang membuat mereka langsung dapat nilai sembilan dari saya. Mengambil tempat duduk di bangku VIP sambil tak lupa menilisik balkon kiri-kanan. Langit-langit auditorium mengingatkan pada layang-layang hias yang pernah saya lihat di Bali. Tak lupa saya pun tersenyum dalam hati. Bukan apa-apa, menonton Mud KL: The Story Kuala Lumpur dari royal balcon ini serasa menonton bersama keluarga kerajaan!

Auditorium dari Royal Balcon

Auditorium dari Royal Balcon

Jalan Cerita Mud KL: The Story Kuala Lumpur

  Panggung dibuka ke tahun 1857 saat pertambangan timah mulai booming dengan para pelakon membawa alat pendulang. Pencahayaan yang sempurna menciptakan siluet indah dari tubuh dan kostum mereka. Dan tak lama panggung pun pecah. Gemerlap lampu, gerak, tari, dan lagu berkumandang memenuhi empat penjuru gedung . Dari sini lah cerita tentang Mamat, Meng dan Muthiah, tokoh sentral dalam cerita ini akan berkembang. Perjalanan tiga sekawan yang mewakili etnis-etnis besar di Kuala Lumpur: Melayu-China- India, bernarasi lewat suara dan tubuh, akan membawa kita melintasi lorong sejarah lewat drama musikal 4 babak. Tirai sejarah Kuala Lumpur pun terbuka secara gamblang.

Jadi duduk tegak lah, Kakak! Siapkan camera karena tidak seperti di tempat lain, di sini kamu diijinkan mengambil foto sebanyak-banyaknya.

Mereka juga bercerita dengan tubuh

Mereka juga bercerita dengan tubuh

  Ini pertunjukan berkelas, pikir saya sambil mengintip dari camera viewfinder. Saya yang sudah berhenti berpeluh berkat ruang pendingin, otaknya pun langsung dirasuki musik, kalau pun boleh disebut saya sedikit hanyut kala itu. Nada-nada yang memantul dari gendang telinga mengingatkan bahwa ketika seorang artis bernyanyi di atas panggung, mereka tidak hanya menggabungkan bahasa dan musik, tapi juga harus berurusan dengan kesadaran spasial dan kehadiran penonton. Dan di babak pertama itu tiga sekawan dan seluruh artis pendukung mengamini apa yang saya pikirkan . Saat mereka berkumpul di pasar kota, “meributkan” bagaimana menghadirkan secangkir teh tarik yang nikmat, berbagi harapan dan impian, seluruh panggung langsung berubah seperti buku. Terbuka pada janji-janji kekayaan dan kemakmuran.

  Ya begitu lah. Mereka memang patut diberi jempol. Bahkan bagi yang bukan penggemar teater sekali pun, tak sulit memaknai setiap adegan. Karena energi dari gerak, lagu dan musik berbicara, baik secara visual maupun audio. Itu datang tak hanya dari pemeran utama tapi juga pemeran pendukung. Hebat memang tim pemain Mud KL ini, pemeran pendukung berakting sama bagus dan seriusnya seperti pemeran utama.

Mau bikin teh tarik? Begini caranya, sini I ajari

Mau bikin teh tarik? Begini caranya, sini I ajari

Terpesona Babak Demi Babak

  Pergantian setiap babak berlangsung mulus dan ditandai pula pergantian setting panggung. Babak kedua memperlihatkan hidup keseharian tiga sekawan. Meng bekerja sebagai penambang di tambang timah Ampang. Sementara Mamat yang karakternya selalu heboh sejak awal menjalani kehidupan di hiruk-pikuk pasar. Pola perilaku etnis mereka sebagai anggota masyarakat tampil informatif. Seperti kehebohan kenduri untuk menyambut kelahiran anak Mamat yang bersuku Melayu. Begitu pun Muthiah, disela kepenatan, menemukan pelipur lara dan bimbingan rohani dari kuilnya. Yang tak lupa juga masuk pada scene adalah hubungan sosial antar individu, seperti pertemanan di manapun, mengalami pasang-surut, mereka juga berselisih.

Kebakaran Besar. Malam yang meluluh lantakan

Kebakaran Besar. Malam yang meluluh lantakan

  Lalu malam celaka itu datang. Kobaran api merenggut kehidupan tentram pemukiman. Merangsak, berkobar-kobar, seluruh isi kampung berisi rumah kayu membara seketika. Jerit dan tangis berhamburan. Kehebohan kian terasa karena penonton juga terlibat dalam usaha memadamkan api. Mata saya ikut basah di babak ini. Musik menuntun perasaan saya dalam memahami derita mereka yang kehilangan harta benda dan mungkin juga nyawa. Terenggut dari segala hal yang kita punya memang sakit, Jendral!
Dan penderitaan ternyata belum berakhir. Setelah api sekarang datang air. Hujan terus menerus membuat pemukiman kembali ke titik nol. Banjir jadi klimaks bencana yang pernah terjadi di Kuala Lumpur yang tampil dalam drama musikal ini.

Muthiah mencari suaka di tempat ibadah

Muthiah mencari suaka di tempat ibadah

  Terus setelah semua luluh lantak, apa kah sudah tiba saatnya menyerah? “ Bonanza” memang mudah menerbitkan harapan. Bonanza membuat semuanya jadi mungkin. Tapi setelah bonanza lenyap apakah kehidupan juga berakhir? Tidak! Manusia bisa hidup berminggu-minggu tanpa makanan, beberapa hari tanpa air, beberapa menit tanpa oksigen, tapi tidak sesaat pun tanpa harapan. Itu pula yang disadari oleh istrinya Mamat, menggendong anaknya yang baru lahir, jadi simbol harapan dalam drama ini, bahwa kita boleh kehilangan segalanya tapi tidak harapan. Mereka akan mengerahkan segenap daya untuk bangkit dari puing-puing.

Jangan putus asa, Bang. Selama masih ada harapan di dada, semuanya masih mungkin

Jangan putus asa, Bang. Selama masih ada harapan di dada, semuanya masih mungkin

  Dan dari sana lah kejayaan Kuala Lumpur bangkit, yang sekarang jadi Wilayah Persekutuan, jadi ibu kota dan kota terbesar di Malaysia, dan rumah bagi sekitar 1,6 juta jiwa penduduknya. Memahaminya lewat pentas teater ternyata lebih mudah ketimbang membaca buku sejarah

Likes(0)Dislikes(0)

3 Comments
  • cumilebay
    23rd November 2016 at 7:32 AM

    Dataran merdeka ini wajib banget di kunjungikalo pertama kali ke KL dulu hehehe, cuman sayang ngak liat pertunjukan nya ihik ihik

    Panggung nya bertahan lama yaaa, sudah ada sejak 1857

    Likes(0)Dislikes(0)
  • Rina
    23rd November 2016 at 7:50 AM

    Kalo lihat fotonya, beda ama yang aku tonton ya, tulisannya bagus mbak

    Likes(0)Dislikes(0)
  • Fajrin Herris
    23rd November 2016 at 8:22 AM

    Kapan ya bisa ke KL tante idola 🙁 *biar bisa menyaksikan teather dan menyelusurin Kota KL

    Likes(0)Dislikes(0)

Leave a Reply

Partners & Affiliates