#AboutKL / Play  / Kemegahan Drama Musikal #MudKL : “Story of Kuala Lumpur”

Kemegahan Drama Musikal #MudKL : “Story of Kuala Lumpur”

dsc_0079

Hmm, rasanya baru kemarin aku diam-diam memotong sejumput ijuk dari sapu halaman kepunyaan ibuk. Melekatkannya di sebuah karton padi yang cukup tebal, membentuknya seperti kumis dan menambahkan double tip agar bisa menempel dan menutupi area filtrum.

“Heh, buat apa?”

“Nganu, buat dipakai dalam pertunjukan drama.”

“Ciyus pernah main drama?” <- tolong perhatikan, dramanya tanpa tanda petik.

Hehe, yup, ganteng-ganteng (kok srigala buntet) gini aku dulu pernah gabung di sebuah pertunjukkan drama. Kapan? Udah lama deh, zaman SMP, yaa sekitar 6 tahun lalulah –nyengirdipojokan. Trus dramanya jadi apa? Jadi pahmud aka papah muda gitu syalala. Haha, ya harap maklum, selain dari faktor muka, dulu pemilihan pemeran di drama perpisahan kakak kelas juga ditentukan dari seberapa maju perut yang aku punya.

dsc_0088

“Penontonnya darimana ini?” sapa beliau dari atas panggung.

Pasca dari drama yang sukses merontokkan image-ku sebagai pemuda baik-baik harapan bangsa (lupa, kalau gak salah dulu jadi ayah yang gagal karena anaknya konsumsi narkoba, deh), aku memang sempat mendapatkan tawaran dari beberapa produseN gorengan. Namun karena bayarannya kurang sesuai, jadi aku tolak. Sejak itu berakhirlah karir bintang panggungku. Walau begitu, menonton drama adalah kegiatan yang masih aku gemari hingga sekarang.

Bagi yang temenan sama aku di sosmed, pasti udah ngeh ya kalau semingguan kemarin (tgl 21-26 September), aku sedang berada di Kuala Lumpur, Malaysia untuk menghadiri acara #AboutKL dan #CitraWarna2016? Nah, banyak kegiatan yang aku dan teman-teman blogger lakukan, diantaranya menyaksikan drama pertunjukkan MUD : Story of Kuala Lumpur. Nah, karena aku menghadiri 2 acara tersebut, aku pun jadi menyaksikan #MudKL ini sebanyak 2 kali! Alhamdulillah.

Selamat Datang di #MUDKL

Bersama rombongan, aku mendatangi gedung Panggung Bandaraya. Gedung tua yang dibangun pada bulan Agustus tahun 1902 ini didesain oleh A.B Hubback dengan mengadopsi sedikit sentuhan mughal pada eksteriornya. Letaknya sendiri di sekitaran Dataran Merdeka yang tersohor itu. Jadi, mudah saja mencapai tempat ini dengan kendaraan umum.

a5d_1559

Sumber gambar : www.MudKL.com

Pada kunjungan pertama ke sana, jumlah penonton cukup ramai. Wisatawan dari Tiongkok nampak memenuhi kursi di lantai dasar. Kami sendiri rombongan #AboutKL menempati kursi di lantai 2. Dari atas, gedung pertunjukkan ini nampak seperti gedung opera yang sering aku lihat di film-film. Warbiyasak! Keren banget!

Tak lama kemudian lampu utama dimatikan dan lampu sorot warna-warni nampak menyinari panggung utama tanda bahwa pertunjukkan akan segera dimulai. Tiba-tiba iringan musing mengalun syahdu. Layar plasma berukuran besar lantas menampilkan ilustrasi perjalanan terbentuknya kota Kuala Lumpur. Oh well, mari cari posisi duduk yang nyaman, drama musikal indah ini siap mengantarkan aku ke masa lalu saat ketika kota Kuala Lumpur perlahan dibangun.

dsc_0725

Pertunjukan siap dimulai

Drama Musikal 4 Babak

Drama musikal yang disajikan selama kurang lebih 1 jam ini menampilkan 4 babak cerita. Namun, intinya kisah ini berpusat pada tokoh Mamat, Meng dan Muthiah, 3 sekawan yang merepresentasikan kelompok masyarakat di Kuala Lumpur, yakni orang asli (pribumi/melayu), Tionghoa dan India.

dsc_0080

3 tokoh utama, Mamat, Meng dan Muthiah sedang beraksi

Kisah #MudKL dimulai dengan menampilkan pertemuan Mamat, Meng dan Muthiah di tahun 1857 yang kemudian memutuskan untuk hijrah ke daerah yang disebut “Pertemuan Dua Sungai” yakni Sungai Lumpur (sekarang bernama sungai Gombak) dan Sungai Kelang.

Mereka bertiga berusaha mencari peruntungan di masa kejayaan timah di tahun 1980. Kota mulai berkembang dan masyarakat hidup dengan harmonis. Namun sayang, musibah kebakaran besar di tahun 1881 menghancurkan kehidupan masyarakat setempat.

dsc_0092

Itu properti yang di belakang dihadirkan secara otomatis

Lepas dari kebakaran hebat, di tahun yang sama, lingungan tempat tinggal mereka mendapatkan musibah hujan lebat yang diikuti banjir besar pada Desember 1881. Kehidupan yang telah mereka bangun benar-benar hancur. Namun untunglah Mamat, Meng dan Muthiah serta masyarakat lain tidak putus asa dan kembali bersemangat membangun tempat tinggal mereka hingga kemudian kita kenal sebagai kota Kuala Lumpur.

Takjub Berjamaah

Aku rasa semua penonton merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Bagaimana tidak, penampilan puluhan aktor panggung di pertunjukkan #MudKL ini sangat bagus! Semua dialog dilakukan secara live! Tidak hanya bercakap, mereka pun menari, menari dan beberapa pemeran bahkan melakukan gerakan-gerakan akrobat di atas panggung.

img_20160924_151605

Semua pemain dapat menyanyi dan menari dengan baik!

Aku benar-benar terkesima dengan pertunjukkan ini. Lebih takjub lagi, saat kunjungan kedua bersama rombongan #CitraWarna2016 dan aku berkesempatan duduk di bangku paling depan, aku dapat melihat langsung ekpresi para pemain yang bahkan betul-betul meneteskan air mata saat melakoni kejadian sedih.

WOW!

Tata panggung yang apik, make up pemain yang pas, kemampuan akting yang mumpuni, pun dilengkapi dengan bantuan teknologi, menjadikan pertunjukkan #MudKL ini sebagai pertunjukkan drama terbaik yang pernah aku tonton sejauh ini. Oh ya, walaupun bertumpu pada teknologi, aspek pendukung seperti property buatan juga disajikan. Salutnya, peralatan panggung itu sebagian dioperasikan secara otomatis sehingga dalam hitungan detik dapat berada/lenyap dari panggung utama.

dsc_0724

Pemeran pendukungnya pun bermain dengan apik!

Jangan lupa, drama musikal ini pun berusaha untuk berinteraksi dengan penonton. 2 orang penonton akan diajak ke atas panggung untuk berperan. Bahkan, di akhir pertunjukkan, semua penonton diajak ke atas panggung untuk menyanyi dan menari bersama! 😀 bagaimana dengan aku? Tentu ikutan dong! Pokoknya jogetanku nggak malu-maluin deh, maklum berguru lama sama Inul Daratista hehehe.

Aku beruntung sekali dapat menyaksikan #MudKL secara langsung dan dapat berinteraksi dengan para pemainnya yang memiliki talenta luar biasa. Jujur saja, sepanjang pertunjukkan, perhatianku lebih banyak terpaku pada pemain pendukung ketimbang pemain utama.

dsc_0094

Penonton pun diajak ke atas panggung 🙂

Pemain utama jelas akan menampilkan aksi yang maksimal. Eh ternyata, pemain pendukung pun begitu! Walaupun peran mereka seolah ada-dan-tiada, namun ekpresi dan gerakan tubuh mereka sama totalnya dengan pemain utama. Hebatnya lagi, pertunjukkan ini terus dipentaskan sepanjang tahun (kecuali hari raya keagamaan) dengan 2 kali waktu pertunjukkan, yakni sore dan malam hari.

dsc_0100

Salah satu adegan sedih. Nangis ya nangis beneran sampai keluar air mata!

Pertanyaannya, “gimana jika salah satu pemain berhalangan hadir?” ternyata, mereka dibagi menjadi beberapa tim dengan beberapa aktor yang memerankan peran yang sama. Jadi, jika ada yang berhalangan, jangan khawatir, aktor lain akan datang dan memerankan peran tersebut.

Sungguh, menyaksikan #MudKL adalah salah satu pengalaman terbaikku berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia minggu lalu. So, kapan giliran kamu menyaksikan #MudKL?

dsc_0736

Jajaran pemain utama

Informasi

MUD KL : Story of Kuala Lumpur

  • Alamat : Panggung Bandaraya, Jalan Raja 50350, Dataran Merdeka, Kuala Lumpur
  • Telp : +603-2602-3335
  • Situs : mudkl.com
  • Harga tiket : RM 84.80 (warga asing) RM 53 (penduduk Malaysia)
  • Penjualan tiket : mulai pukul 10:00 pagi s/d 20:30 malam
  • Waktu pertunjukkan : 2 kali. Pertama pkl 15:00, Kedua pkl 20:30.
  • Social Media FB : MUDKualaLumpur Twitter & IG : @MudKL
  • Tambahan : Jika dipertunjukkan lain dilarang memotret/merekam, di pertunjukkan #MudKL ini malah hal tersebut dianjurkan! Kece, kan?
Likes(0)Dislikes(0)

No Comments

Leave a Reply

Partners & Affiliates